Inspirasiku13 Oktober 20267 menit baca

Belajar dari Ki Hadjar Dewantara: Menuntun, Bukan Menuntut

Refleksi tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya bagi guru masa kini, mulai dari menuntun potensi peserta didik hingga memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.

4 views· 0 tanggapan
Belajar dari Ki Hadjar Dewantara: Menuntun, Bukan Menuntut

Belajar dari Ki Hadjar Dewantara: Menuntun, Bukan Menuntut

Bagi saya, pendidikan bukan sekadar proses menyampaikan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan juga merupakan proses mendampingi manusia agar mampu mengenali potensi dirinya, mengembangkan kemampuan, dan belajar mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab.

Pemikiran tersebut mengingatkan saya pada sosok Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia yang pemikirannya masih relevan untuk direnungkan oleh para pendidik hingga saat ini. Beliau dikenal melalui perjuangannya dalam mengembangkan pendidikan nasional dan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Salah satu hal yang menginspirasi saya dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah pandangannya bahwa pendidikan seharusnya menuntun perkembangan anak, bukan sekadar memaksakan kehendak pendidik. Gagasan ini membuat saya kembali memikirkan peran guru di tengah perubahan dunia pendidikan dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Pendidikan sebagai Proses Menuntun

Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan memiliki peran penting dalam menuntun tumbuh kembang anak. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan yang harus selalu diikuti secara pasif, melainkan pendidik yang mendampingi peserta didik dalam proses belajar dan perkembangannya.

Bagi saya, gagasan ini mengandung pesan bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik, minat, kemampuan, serta kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, guru perlu berusaha memahami kondisi peserta didik sebelum menentukan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Menjadi guru tidak cukup hanya memastikan materi telah disampaikan. Kita juga perlu memperhatikan apakah peserta didik memperoleh kesempatan untuk memahami, bertanya, mencoba, dan mengembangkan kemampuannya.

Dalam praktiknya, menuntun bukan berarti membiarkan peserta didik belajar tanpa arah. Guru tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan, menetapkan tujuan pembelajaran, membangun kebiasaan yang baik, dan membantu peserta didik ketika menghadapi kesulitan.

Perbedaannya terletak pada cara kita mendampingi mereka. Alih-alih hanya menuntut hasil, guru perlu menciptakan proses belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang secara bertahap.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara mengingatkan saya pada tiga peran penting seorang pendidik.

Ing Ngarsa Sung Tuladha berarti ketika berada di depan, guru hendaknya memberikan teladan. Guru perlu menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan rasa hormat melalui tindakan nyata. Nilai-nilai tersebut akan lebih bermakna ketika peserta didik melihat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ing Madya Mangun Karsa mengandung makna bahwa ketika berada di tengah, guru membangun semangat dan kemauan. Dalam pembelajaran, guru dapat memberikan ruang bagi peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, bekerja sama, serta mengembangkan gagasannya sendiri.

Tut Wuri Handayani mengingatkan bahwa dari belakang, guru memberikan dorongan. Peserta didik perlu memperoleh kepercayaan dan kesempatan untuk mencoba, mengambil keputusan, serta belajar dari kesalahan dengan tetap mendapatkan bimbingan yang sesuai.

Ketiga pemikiran tersebut saling melengkapi. Ada saatnya guru memberikan contoh, ada saatnya guru mendampingi proses belajar, dan ada pula saatnya guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang lebih mandiri.

Bagi saya, inilah salah satu pengingat penting bahwa peran guru tidak selalu harus menjadi pusat perhatian di dalam kelas. Keberhasilan pembelajaran juga terlihat ketika peserta didik mulai berani berpikir, bertanya, dan menemukan solusi dengan kemampuannya sendiri.

Menghubungkan Filosofi Pendidikan dengan Pembelajaran Informatika

Sebagai Guru Informatika, saya melihat bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat menjadi inspirasi dalam merancang pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif.

Informatika bukan hanya tentang mengenal perangkat komputer atau menghafal istilah teknologi. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk melatih penalaran, kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Misalnya, ketika mempelajari sistem komputer, peserta didik dapat diajak mengamati perangkat yang tersedia di sekitarnya dan menjelaskan fungsi setiap komponen. Dalam pembelajaran jaringan komputer, mereka dapat membuat diagram sederhana tentang bagaimana perangkat saling terhubung.

Ketika mempelajari Internet of Things (IoT), peserta didik juga dapat mengeksplorasi rancangan sederhana yang melibatkan sensor, perangkat pemroses, dan keluaran. Kegiatan seperti ini membuka ruang bagi mereka untuk bertanya, membuat dugaan, mencoba rancangan, dan mengevaluasi hasilnya.

Dalam proses tersebut, guru tetap berperan memberikan arahan dan menjaga agar kegiatan berjalan sesuai tujuan pembelajaran. Namun, peserta didik juga perlu memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi dan menemukan pemahaman melalui proses yang mereka jalani.

Saya memandang bahwa pendekatan seperti ini sejalan dengan semangat menuntun. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada jawaban akhir, tetapi juga menghargai proses berpikir, usaha, dan perkembangan kemampuan peserta didik.

Teknologi Harus Mendukung Proses Belajar

Perkembangan teknologi memberikan semakin banyak pilihan bagi guru untuk merancang pembelajaran. Media digital, aplikasi interaktif, simulasi, dan berbagai sumber belajar dapat membantu menjelaskan materi serta membuka kesempatan belajar yang lebih beragam.

Saya sendiri tertarik mengembangkan media pembelajaran menggunakan Canva, mengeksplorasi gamifikasi melalui Quizizz, menyusun modul ajar, dan mengembangkan aplikasi SIGMA (Sistem Generator Modul Ajar).

Berbagai kegiatan tersebut membuat saya melihat bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk membantu pekerjaan guru dan mendukung pengalaman belajar peserta didik. Namun, saya juga menyadari bahwa penggunaan teknologi tidak otomatis menjadikan pembelajaran lebih baik.

Guru tetap perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, kesiapan peserta didik, ketersediaan fasilitas, dan kesesuaian media dengan materi yang dipelajari.

Bagi saya, teknologi seharusnya tidak menggantikan hubungan manusia dalam pendidikan. Justru, teknologi perlu dimanfaatkan untuk membuka kesempatan belajar, memberikan ruang eksplorasi, dan membantu guru mendampingi peserta didik secara lebih tepat.

Semangat pendidikan yang berpusat pada perkembangan anak tetap penting, baik ketika pembelajaran menggunakan media sederhana maupun ketika memanfaatkan teknologi digital.

Refleksi Saya sebagai Guru

Saat ini, saya sedang mengikuti PPG Prajabatan di Universitas Pendidikan Indonesia, mengajar di SMPN 1 Bantarkalong, dan melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMAN 1 Bandung. Berbagai pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi saya untuk terus mempelajari dunia pendidikan dan mengembangkan kompetensi sebagai Guru Informatika.

Melalui proses tersebut, saya semakin menyadari bahwa menjadi guru berarti bersedia untuk terus belajar. Kita perlu terbuka terhadap masukan, memahami kebutuhan peserta didik, serta mengevaluasi pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi salah satu pengingat bagi saya untuk tidak hanya berfokus pada apa yang ingin saya ajarkan, tetapi juga pada bagaimana peserta didik dapat belajar dan berkembang melalui proses tersebut.

Saya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari. Karena itu, saya ingin terus berusaha menjadi guru yang mampu memberikan teladan, membangun semangat belajar, dan memberikan kepercayaan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya.

Penutup: Pendidikan yang Memanusiakan

Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menuntun perkembangan manusia. Bagi saya, pesan tersebut tetap penting di tengah perubahan zaman, termasuk ketika pendidikan semakin dekat dengan teknologi digital.

Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi dan menilai hasil pekerjaan. Menjadi guru juga berarti mendampingi proses tumbuh kembang peserta didik, membantu mereka menghadapi tantangan, dan memberikan ruang agar mereka mampu menjadi pribadi yang mandiri serta bertanggung jawab.

Saya ingin terus belajar menerapkan semangat tersebut dalam pembelajaran Informatika. Bukan dengan menganggap teknologi sebagai tujuan utama, melainkan menjadikannya salah satu sarana untuk membantu peserta didik berpikir, berkarya, dan memahami dunia di sekitarnya.

Bagi saya, guru yang baik bukan hanya membantu peserta didik mengetahui lebih banyak, tetapi juga menuntun mereka agar mampu berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

#Ki Hadjar Dewantara#Filosofi Pendidikan#Inspirasiku#Guru Informatika#Pendidikan#Tut Wuri Handayani#Teknologi Pendidikan

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.